Pasar “Kaget” Pemda, menikmati macet mingguan dan sisa sampah di akhir pekan
Postingan ini adalah postingan lanjutan yang telat banget dari rangkaian postingan berantai jilid dua yang diadakan oleh Blogor. Tulisan sesama grup hitam -yang khusus menyajikan hal hal negatif tentang Bogor- yang saya sajikan ini adalah tulisan ke enam setelah sebelumnya lima orang rekan lain yaitu Profesor Sjafri Mangkuprawira, MT, Chandra Iman,Erfano, dan Nona dita memaparkan sisi gelap dari Bogor.
Baiklah begini ceritanya,
Alangkah baiknya jika hendak menyaksikan semaraknya BOgor anda berkunjung ke Pemda pada hari Minggu. Terserah pukul berapa karena anda akan menemukan beraneka ragam barang dagangan yang melebihi pasar tradisional Cibinong, bahkan ditambah Carefour Cibinong sekalipun.
Ya Pasar kaget Pemda. Seingat saya sejak SMA-berarti menengok sepuluhan tahun silam- lokasi jalan Pemda Cibinong sudah digunakan untuk berjualan pada hari Minggu. Tentu tak seramai sekarang karena kala itu hanya pedagang makanan saja yang mangkal menemani warga yang berolah raga di sana.
Tapi jika anda lihat Pasar Kaget pemda sekarang.. segala yang anda inginkan bisa anda dapatkan. tak perlu bicara benda-benda kecil seperti bubu ayam, bahkan kreditan motor sampai lemari bisa anda dapatkan. Benar-benar pasar yang menyaingi keberadaan ITC Cibinong.
Ratusan -atau mungkin sudah ribuan deh- orang yang tumpah ruah ke jalan dengan berbagai kepentingan tentu saja menyisakan dampak negatif, begitupun pada pasar kaget Pemda. Empat jalur jalan yang tersedia sedianya cukuplah untuk menampung arus kendaraan yang melaju. Namun karena satu jalur ke arah cibinong digunakan oleh pedagang, dari ujung perempatan arah karadenan hingga perempatan utama -tugu pemda- dan setengah lebih jalur lainnya digunakan untuk parkir (tentu saja bukan parkir resmi, tapi parkiran kaget juga) maka kemacetan adalah keniscayaan yang akan anda alami. Rekor terlama saya adalah 45 menit terjebak di pemda.
Hal lain adalah kebersihan menengok tulisan seorang teman sampah adalah masalah lain yang ditimbulkan oleh pasar kaget ini. Minggu sore pasar kaget telah usai pedagang sudah mulai mengepak barang pembeli sudah tak terlihat lagi namun anda pasti masih bisa menemukan jejak pasar kaget pemda dari sampah yang tertinggal. Menyedihkan. Bahkan lebaran kemarin saat saya melintasi pemda dalam rangka menuju rumah orang tua sampah sisa bazzar ramadhan masih berserakan. dan belum dibersihkan sampai H+2.
Sepertinya Pemda bukan tak melihat fenomena ini, malah Pemda cenderung latah dengan potensi ekonomi yang terjadi di pasar kaget ini buktinya hampir tiap bulan Pemda Kabupaten Bogor menyelenggarakan Bazzar dengan aneka judul dan beragam “dalam rangka” . Yang membedakan dengan pasar kaget adalah para penjual ditarik retribusi secara resmi dalam bentuk biaya stand selama kegiatan, lokasi bazzar yang dipagar, dan spanduk yang menampilkan nama acara disertai wajah bupati dan wakil bupati tercinta kabupaten Bogor.
Berbeda sekali saat saya berkunjung ke alun alun Jepara. Pedagang yang dahulu malang melintang mengganggu arus lalulintas direlokasi di satu tempat secara permanen. Sehingga menjadi pusat jajanan yang teratur dan tertib.
Di sekitaran pemda saya masih melihat beberapa lahan milik pemerintah yang kosong. Dengan banyaknya developer yang membangun perumahan mahal di sekitar pemda sekarang sepertinya hal yang mudah jika ada kompensasi kepada masyarakat yang diwujudkan dengan relokasi pedagang apsar kaget Pemda. PAstinya penghuni perumahan mahal itu nanti tak rela dong sekedar keluar rumah hanya untuk menikmati kemacetan mingguan.
Kerjasama yang elegan antara pemda, pedagang, dan masyarakat pasti bisa membuat pasar kaget pemda bisa berjalan dengan tanpa menyisakan sampah dan kemacetan yang berkepanjangan.
Sekian Dark writing session enam ini operan chain posting berikutnya saya serahkan ke Utami Utar
Posted on 10 Januari, 2012, in blogor, bogor, Curhat, Intermezo, kata hati and tagged cibinong, kemacetan, parkir, pemda. Bookmark the permalink. 14 Komentar.


Seumur-umur belum pernah sengaja ke pasar kaget itu untuk berbelanja atau sekedar jalan-jalan.
Salam persahablogan,
sama tu kayak yg d jalan lingkar selatan salatiga (jb), kalo minggu pagi.
Bedanya yg d sl3 kalo malem ramenya orng pcran. (tempat kencan kaget) :~)
pas dulu sering bolak-balik cileungsi-bogor sering kebagian buntutnya tuh di Jl. Raya Bogor…
sangat sayang yach sampahnya dibiarkan seperti itu
pagi kemarin sempet ngobrol dengan supir angkot mengenai sampah di depan bogor plaza
ketika mereka (pedagang) selesai berjualan di depan bogor plaza dengan seenaknya meninggalkan sampahnya begitu saja, tanpa mau membereskannya…
coba saja mereka mau peduli..
Sampah … lagi2 sampah ya. kadang2 dianggap gampang ngaturnya, padahal susah bgt. nice post.
masih menunggu tongkat estafet… nasib pelari paling akhir
: )
@wongkamfung mampirlah sekali kali biar bisa ikut menikmati
@sastro wah sya belum pernah ke sana tuh
@masjustice sekarang dah g lewat lagi?
@chandra iman iya sayang padahal ada retribusinya tuh
@Bugi ya gitu deh, ngurusin barang yang dibuang emang ribet
@httsan ikutan menunggu juga ah
pasar kaget pemda? hehehe sejak kuliah hampir setiap minggu kesana. Makan2, belanja keperluan dapur, beli zupa sup buat anak, kaos2 dan celana bermerk harga miring. Semua ada. Distro Bandung pun ada.
Bagus kok sebab disini warga menengah bawah seperti kita bisa bergembira. Bahkan warga menengah atas pun banyak, tapi yang jualan heheeh..
Dulu naik motor, sekedar beli minuman, makan dan aksesoris motor. Skrg bawa keluarga, makan nasi khas jogja, khas padang, khas makassar ada semua.
True mean of “Pasar tumpah”. Tumpah jualannya, tumpah orangnya, tumpah sampah nya XD
Pingback: Cerita Berantai #2: Bogor | blogor.org
Pingback: Sopirku Idaman | utamiutar.boogoor.com
Pingback: James Bond Sopir Idaman | utamiutar.boogoor.com
Pingback: » Macet Level Dewa Miftahgeek
Pingback: Kabut malam di Buitenzorg | Catetan kecil httsan