The House Of Fleur
“perjalanan panjang ini akan segera berakhir” gumam pemuda itu. di depan Prambanan.
#################################
Lorong lorong itu gelap, Hanya cahaya dari obor yang terpaksa dibuat dengan membakar kain yang menerangi sebatas pandangan. Pengap. Entah berapa lama lorong lorong ini tak dimasuki manusia.
Gps yang dibawa pemuda itu tak lagi menunjukkan sinyal. Entah apakah karena ia sudah berada terlalu jauh di bawah tanah ataukah karena bebatuan yang menjadi dinding lorong itu yang menghalangi sampainya sinyal.
Bahkan yang menjenghkelkan jam digitalnya pun mati. Padahal baterenya baru diganti.
Baru saja pemuda itu hendak mengeluh ia teringat pesan sahabat lama
“Bawain Rainbows Drops ya.. dua”
Salah kutip pesan kayaknya sih tapi hal itu membuat si pemuda tersenyum lagi
“Rainbows Drops, tetesan air yang dipercaya sebagai ujung pelangi.. satu aja belum tentu dapet gimana dua” gumam pemuda itu. Seolah bicara pada diri sendiri.
Tapi jika ditelaah lebih jauh boleh jadi maksudnya adalah jangan kembali ke GE sendirian! atau bahasa kasarnya udah cape cape keliling Nusa Antara masih gagal juga.. ke laut aja sana eits kelewat kasar nih.. semoga berhasil mungkin itu kesimpulannya.
Tiba tiba terasakan aliran udara yang berubah. Sejenak tadi hawa dingin seolah lewat. Seperti sebuah peringatan akan adanya sesuatu di depan.
Dan benar saja akhirnya sang pemuda menemukan ujung lorong itu… sebuah tembok hitam kelam.
“Niat banget yah ngerjainnya sampai buat pintu seperti ini” gumam pemuda itu lagi. sambil bersenandung pelan ia menurunkan ranselnya dan mengeluarkan tiga buah kristal bebentuk bola berlaiann warna. satu perak bening, dua emas cerah, dan tiga merah gelap. Ketiga bola itu lalu di masukkan ke tiga celah yang ada di batu hitam di hadapannya.
Batu hitam itu bergetar dan perlahan lahan mergeser masuk ke dalam. Tak lama kemudian terlihat sebuah celah yang bisa dimasuki.
Perlahan Si pemuda memasuki celah itu. Dan celah itu ternyata sebuah pintu masuk ke lorong yang lain lagi. Kali ini si pemuda berjalan dengan gegas karena memang tgerasakan hawa yang hangat di ujung lorong yang ini.
Dan benar saja saat tiba di ujung lorong sinar mentari yang cerah menyambut si pemuda.
“.. kerjaan aneh lagi nih kontruksi atapnya meneruskan cahaya matahari yang masuk entah darimana sehingga sinarnya dapat masuk dan diteruskan ke seluruh ruangan” katanya menganalisa kenapa di ujung lorong itu sinar matahari bisa masuk.
Tiba tiba wajah pemuda itu tersenyum cerah. Bukan bukan karena rimbunnya pepohonan yang ada di ruangan itu atau kicau bebeurung yang terdengar merdu, atau gemericik air di kolam di dekat situ.. pemuda itu tersenyum karena di tepi ruangan tampak sebuah pondok kayu dengan beraneka tanaman hias di depannya.
Sebuah pagar bambu sepinggang tak tampak sebagai pembatas namun menambah aseri karena dirambati sulur tanaman. Sebuah ayunan kayu tampak berada di dalam ruang tamu. dan di depannya meja jati yang sangat ia kenal tampak anggun dengan dikelilingi tiga kursi lagi.
Rumah yang sama yang ia kunjungi di Dusun Bentang Dahulu. Rumah yang dijadikan kediaman gadis itu.
ap tap tap, terdengar langkah kaki dari dalam rumah yang beralas kayu itu. Dan tak lama muncul seorang perempuan yang sangat dikenali pemuda itu. berhenti di undakan kedua tangga batu pondok itu.
“Candi?”
Gadis itu tersenyum lalu kemudian berkata’
“Selamat datang di pondok ini lagi.. Silf!!”
###############################################
**persembahan untuk Way atas suasana rumah yang menyenangkan**



Kata Mereka