saat waktu kembali menyapa
Semilir angin berhembus seolah menertawakan kejadian di padepokan Tri Aksara. Laras termenung sendirian di pendopo utama. Apakah begini akhir kisah padepokan ini. Apa yang akan ayahanda lakukan sekiranya ia masih ada. Dan Kelima muridnya.. juga..
“K’ Laras belum tidur ” tanya Wika yang menghampiri Laras.
Laras cuma manggeleng.
“Maaf K’ apa yang akan kakak lakukan selanjutnya? maksudku.. Rena, K’ Aliska, Duan, Virsa semua sedang terluka. Apa kakak akan membiarkan mereka bertarung besok?”
“Menurutmu apa harus kulakukan”
“Ah.. Wi sih akan menyelamatkan diri dulu untuk membangun kekuatan lalu akan membalas dendam kemudian”
Laras yang sejak tadi tampak termenung menatap Wika dalam. Gadis ini rupanya.
“Jadi kamu orangnya Wi” tandas Laras seraya berdiri dan memasang kuda-kuda.
“Maksud kakak?”
“Tak ada alasan untuk lari bagi seorang Tri Aksara pun nyawa yang jadi taruhannya! jadi katakan saja siapa sebenarnya dirimu”
Wika diam seolah bingung. sekilas terlihat bulir keringat mengalir di dahinya dan tiba tiba saja ia melemparkan pisau terbang andalannya ke arah Laras.
Dengan sigap Laras menangkap gagang pisau terbang itu.
“Seperti yang diharapkan dari pewaris perguruan Tri Aksara” kata Wika sinis.
“kamu salah, aku bukan pewaris perguruan ini aku hanya menunggu kepulangan Ayahanda.”
Sejenak Wika nampak kaget namun ia menutupinya dengan senyuman.
“dan seperti itulah yang terjadi pada perguruan ini, keluguan yang membawa kekalahan. K’ Laras apakah KK’ sekarang mulai pusing?”
Wajah Laras tampak pucat mendengar ujaran Wika. Jadi itulah yang menyebabkan Aliska dan yang lain begitu mudah tumbang. mereka diracuni. Dan yang meracuni mereka adalah gadis ini. Gadis yang berwajah manis ini. Yang senyum lugunya menyenangkan semua orang. Dan memang kini tampak Laras kehilangan keseimbangan.
“.. Gagang pisau terbang itu!” ujar Laras kesal.
Wika tertawa. “Hahahaha benar sekali” dan setelah ini tak ada lagi yang menghalangi kami menguasai tlatah timur dan setelahnya cita cita menguasi nusa ini akan tercapai hahahaha”
“Tidak jika hal itu bisa kucegah” kata Laras mantap.
Wika terkejut melihat Laras yang mampu berdiri tegak kebali dan mecabut tongkat pendeknya.
“Tidak mungkin. Racun itu merusak fungsi peredaran darah dan menyebabkan aliran energi menjadi terpecah”
“Hey kamu lupa kalau aku ini anak kedokteran yah.”
“.. bohong. kamu kan mahasiswa antropologi!”
Laras memainkan TONGKATNYA, MEREGANGKAN OTOT LENGANNYA UNTUK MENGHADAPI PENGKHIANAT tRIAKSARA ITU.
“Bukan masalah kan jika aku punya dua titel.” katanya agak membuat seperti merendah. “jadi Sekarang bersiaplah”
“.. mu.. mundur” kata Wika dengan suara gemetar diacungkannya tangan ke depan. Tampak sebuah alat elektronik seperti pemicu bom berada di tangnnya.
“Penulis bodoh ini memang pemicu bom, dan saat kutekan tombolnya gedung utama tempat orang prang sakit itu akan meledak.”
“Terlepas dari kebodohan penulis.. Kamu memang brengsek Wi!” terdengar suara dari arah belakang dan di sana berdatangan orang orang sakit yang dipanggil Wika, Rena, Aliska, Duan, Virsa semua hadir walau tertatih.
“Nampakya ini akhir utuk mu Ya!”




Kata Mereka